Oleh: admin | 12 Juli 2010

Tentang Kedispilinan Kerja

1. Pengertian Disiplin Kerja

Peraturan sangat diperlukan untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi pegawai dalam menciptakan tata tertib yang baik dalam organisasi. Dengan tata tertib atau disiplin kerja yang baik, semangat kerja, moral kerja, efisiensi, efektifitas dan produktifitas kerja pegawai akan meningkat. Hal ini akan mendukung tercapainya tujuan organisasi. Jelasnya organisasi sulit mencapai tujuannya, jika anggota organisasi tidak mematuhi peraturan-peraturan dari organisasi tersebut.

Pengertian disiplin menurut Sondang P. Siagian, bahwa:

Disiplin merupakan tindakan manajemen untuk mendorong para anggota organisasi memenuhi tuntutan berbagai ketentuan tersebut. Dengan perkataan lain, pendisiplinan pegawai adalah suatu bentuk pelatihan yang berusaha memperbaiki dan membentuk pengetahuan, sikap dan perilaku karyawan sehingga para karyawan tersebut secara sukarela berusaha bekerja secara kooperatif dengan para karyawan lain serta meningkatkan prestasi kerjanya. [1]

Dari urain diatas dapat disimpulkan bahwa, disiplin merupakan suatu tindakan dari pimpinan untuk menegakan standar organisasi dalam rangka mewujudkan tujuan dari organisasi.

Pengertian kedisiplinan menurut Melayu S.P Hasibuan adalah : “Kedisiplinan diartikan jika pegawai selalu datang dan pulang tepat pada waktunya, mengerjakan semua pekerjaannya dengan baik, mematuhi semua peraturan organisasi atau perusahaan dan norma-norma social yang berlaku”.[2]

Adapun Alek S. Nitisemito, menjelaskan bahwa: “Kedisiplinan dapat diartikan sebagai suatu sikap, tingkah laku dan perbuatan yang sesuai dengan peraturan dari perusahaan baik tertulis maupun tidak”.[3]

Sedangkan AA. Anwar Prabu Mangkunegara, menjelaskan bahwa, “disiplin kerja dapat diartikan sebagai pelaksanaan manajemen untuk memperteguh pedoman-pedoman organisasi”.[4]

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kedisiplinan merupakan kepatuhan pegawai atau pegawai pada semua peraturan yang diberlakukan dalam suatu organisasi dan kepatuhan terhadap norma-norma sosial yang berlaku.

Disiplin pegawai dalam suatu organisasi berawal dari pandangan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, luput dari kekhilafan dan kesalahan. Oleh karena itu setiap organisasi perlu memiliki berbagai ketentuan yang harus ditaati oleh para anggotanya,standar yang harus dipenuhi.

Disiplin merupakan tindakan manajemen untuk mendorong para anggota organisasi memenuhi tuntutan berbagai ketentuan tersebut. Pendisiplinan pegawai adalah suatu bentuk pelatihan yang berusaha memperbaiki dan membentuk pengetahuan, sikap dan prilaku pegawai sehingga para pegawai tersebut secara sukarela berusaha bekerja secara kooperatif dengan para pegawai yang lain serta meningkatkan prestasi kerjanya.

Pendisiplinan pegawai dapat diterapkan secara bertahap dengan mengambil berbagai langkah yang bersifat pendisiplinan, mulai dari yang paling ringan hingga kepada yang terberat, misalnya dengan peringatan lisan, pernyataan tertulis, penundaan karier, pembebasan dari jabatan, pemberhentian sementara, pemberhentian atas permintaan sendiri, pemberhentian dengan hormat atas permintaan sendiri, dan pemberhentian tidak dengan hormat.

Kedisiplinan suatu organisasi dikatakan baik, jika sebagian besar pegawai mentaati peraturan-peraturan yang ada. Hukuman diperlakukan dalam meningkatkan kedisiplinan dan mendidik pegawai supaya mentaati semua peraturan organisasi.

Dalam peraturan disiplinan kerja telah diatur kewajiban dan larangan yang harus dipatuhi oleh pegawai, hukuman disiplin dari bentuk pelanggaran sampai dengan tingkat dan jenis hukuman disiplinan, pejabat yang berwenang menghukum, tata cara pemeriksaan, penjatuhan dan penyampaian keputusan hukuman disiplin, serta sampai adanya keberatan atas hukuman disiplin.

2. Tingkat Kedisiplinan Pegawai

Dengan adanya peraturan dan norma-norma yang berlaku pada suatu organisasi, diharapkan pegawai dapat mentaati dan menjalankan tugas yang diberikan dengan baik, dalam arti kedisiplinan pegawai dapat diwujudkan. Sedangkan tujuan dari disiplin pegawai adalah untuk meningkatkan semangat kerja, moral kerja, efisiensi, dan efektivitas kerja pegawai. Hal ini akan mendukung tercapainya tujuan organisasi, pegawai dan masyarakat.

Hal ini diperlakukan indikator pengukuran yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan pegawai. Malayu S.P Hasibuan, indikator yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan pegawai suatu organisasi, diantaranya : “tujuan dan kemampuan, teladan pimpinan, balas jasa, keadilan, waskat, sanksi hukuman, ketegasan, dan hubungan kemanusiaan”.[5]

Dari indikator-indikator di atas dapat dijelaskan secara rinci yaitu sebagai berikut :

a.  Tujuan dan Kemampuan

Tujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan pegawai. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara ideal serta cukup menantang bagi kemampuan pegawai. Hal ini berarti bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan kepada pegawai harus sesuai dengan kemampuan pegawai yang bersangkutan, agar dia bekerja sungguh-sungguh dan disiplin dalam mengerjakannya.

Akan tetapi jika pekerjaan itu di luar kemampuannya atau jauh di bawah kemampuannya maka kesungguhan dan kedisiplinan pegawai rendah. Misalnya: pekerjaan untuk pegawai berpendidikan SMU ditugaskan kepada seorang sarjana atau pekerjaan untuk Sarjana ditugaskan bagi pegawai berpendidikan SMU. Jelas pegawai bersangkutan kurang berdisiplin dalam melakukan pekerjaan tersebut. Disinilah letak pentingnya asas the right man in the right place and the right man in the right job.

b.  Teladan Kepemimpinan

Teladan kepemimpinan sangat berperan dalam menentukan kedisiplinan pegawai, karena pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh para bawahannya. Pimpinan harus member contoh yang baik, berdisiplin baik, jujur, adil, serta sesuai kata dengan perbuatan. Dengan teladan pimpinan yang baik, kedisiplinan bawahan pun akan ikut baik. Jika teladan pimpinan kurang baik(kurang berdisipli), para bawahan pun akan kurang disiplin.

Pimpinan jangan mengharapkan kedisiplinan bawahannya baik jika dia sendiri kurang disiplin. Pimpinan harus menyadari bahwa perilaku akan dicontoh dan diteladani bawahannya. Hal inilah yang menharuskan pimpinan mempunyai kedisiplinan yang baik agar para bawahan pun mempunyai disiplin yang baik pula.

  1. Balas Jasa

Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut mempengaruhi kedisiplinan pegawai terhadap organisasi dan pekerjaannya. Jika kecintaan pegawai semakin baik terhadap pekerjaan, kedisiplinan mereka akan semakin baik pula. Untuk mewujudkan kedisiplinan pegawai yang baik, organisasi harus memberikan balas jasa yang relative besar. Kedisiplinan pegawai tidak mungkin baik apabila balas jasa yang mereka terima kurang memuaskan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beserta keluarga.

Jadi balas jasa berperan penting untuk menciptakan kedisiplinan pegawai. Artinya semakin besar balas jasa semakin baik kedisiplinan pegawai. Sebaliknya, apabila balas jasa kecil kedisiplinan pegawai menjadi rendah. Pegawai sulit untuk berdisiplin baik selama kebutuhan-kebutuhan primernya tidak terpenuhi dengan baik.

d.  Keadilan

Keadilan ikut mendorong terwujudnya kedisiplinan pegawai, karena ego dan sifat manusia yang selalu merasa dirinya penting dan minta diperlakukan sama dengan manusia lainnya. Keadilan yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas jasa (pengakuan) atau hukuman akan merangsang terciptanya kedisiplinan pegawai yang baik.

Manajer yang cakap dalam memimpin selalu berusaha bersikap adil terhadap semua bawahannya. Dengan keadilan yang baik akan menciptakan kedisiplinan yang baik pula. Jadi, keadilan harus diterapkan dengan baik pada setiap organisasi atau perusahaan supaya kedisiplinan pegawai baik pula.

e.  Waskat

Waskat (pengawasan melekat) adalah tindakan nyata dan paling efektif dalam mewujudkan kedisiplinan pegawai. Dengan waskat berarti atasan harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral sikap, gairah kerja, dan prestasi kerja bawahannya. Hal ini berarti atasan harus selalu ada atau hadir di tempat kerja agar dapat mengawasi dan memberikan petunjuk, jika ada bawahannya yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Waskat efektif merangsang kedisiplinan dan moral kerja pegawai. Pegawai merasa mendapat perhatian, bimbingan, petunjuk, pengarahan dan pengawasan dari atasannya.

Dengan waskat, atasan secara langsung dapat mengetahui kemampuan dan kedisiplinan setiap individu bawahannya, sehingga konduite setiap bawahan dinilai objektif.

Waskat bukan hanya mengawasi moral kerja dan kedisiplinan pegawai saja, tetapi harus juga berusaha mencari system kerja yang lebih efektif untuk mewujudkan tujuan oranisasi, pegawai dan masyarakat.

Jadi, waskat menuntut adanya kebersamaan aktif antara atasan dengan  bawahan dalam mencapai tujuan organisasi, pegawai dan masyarakat. Dengan kebersamaan aktif antara atasan dengan bawahan, terwujudlah kerjasama yang baik dan harmonis dalam organisasi yang mendukung terbinanya kedisiplinan pegawai yang baik.

  1. Sanksi Hukuman

Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan pegawai. Dengan sanksi hukuman yang semakin berat, pegawai akan semakin takut melaggar peraturan-peraturan organisasi, sikap, dan perilaku indisipliner pegawai akan berkurang.

g.  Ketegasan

Ketegasan pimpinan dalam melakukan tindakan akan mempengaruhi kedisiplinan pegawai. Pimpinan harus berani dan tegas, bertindak untuk menghukum setiap pegawai yang indisipliner  sesuai dengan sanksi hukuman yang telah ditetapkan. Pimpinan yang berani bertindak tegas menerapkan hukuman bagi pegawai yang indisipliner akan disegani dan diakui kepemimpinannya oleh bawahan.

Dengan demikian, pimpinan akan dapat memelihara kedisiplinan pegawai, sebaliknya apabila seorang pimpinan kurang tegas atau tidak menghukum pegawai yang indisipliner, sulit baginya untuk memelihara kedisiplinan bawahannya, bahkan sikap indisipliner pegawai semakin banyak karena mereka beranggapan bahwa peraturan dan sanksi hukumannya tidak berlaku lagi.

h.  Hubungan Kemanusiaan

Hubungan kemanusiaan yang harmonis diantara sesama pegawai ikut menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu organisasi. Hubungan-hubungan baik yang bersifat vertical maupun horizontal yang terdiri dari direct single relationship direct group relationship dan cross relationship hendaknya harmonis.

Manajer harus berusaha menciptakan suasana hubungan kemanusiaan yang serasi serta mengikat, vertikal maupun horisontal diantara semua pegawainya. Terciptanya hubungan kemanusiaan yang serasi akan mewujudkan lingkungan dan suasana kerja yang nyaman. Hal ini memotifasi kedisiplinan yang baik pada organisasi. Jadi kedisiplinan pegawai akan tercipta apabila hubungan kemanusiann dalam organisasi tersebut baik.

Jadi kedisiplinan merupakan fungsi dari manajemen sumber daya manusia yang terpenting dan menjadi tolak ukur untuk mengetahui apakah fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia lainnya secara keseluruhan telah dilaksanakan dengan baik atau tidak. Kedisiplinan pagawai yang baik, mencerminkan fungsi-fungsi manajemen sumber daya manusia lainnya telah dilaksanakan sesuai rencana.

Sebaliknya jika kedisiplinan pegawai kurang baik, berarti penerapan fungsi-fungsi MSDM pada organisasi kurang baik.

Beberapa penjelasan mengenai disiplin yang dapat dijadikan tolak ukur dalam disiplin kerja menurut Nitisemo, yaitu:

a.  Mematuhi peraturan, yaitu pegawai selalu melaksanakan kewajiban dan tidak melanggar semua peraturan dan norma-norma yang berlaku.

b.  Tidak menununda pekerjaan, yaitu mengerjakan tugas dengan segera dan tidak ditunda atau melewati batas waktu yang ditentukan bahkan hingga menumpuk.

  1. Bertanggung jawab, yaitu pegawai selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan dengan penuh tanggung jawab.

d.  Kesungguhan, yaitu mengerjakan pekerjaan dengan sepenuh hati atau bersungguh-sungguh.

e.  Adanya sanksi, yaitu sanksi atau hukuman yang dikenakan bila ada pelanggaran disiplin kerja.[6]

3. Bentuk-Bentuk Disiplin Kerja

Disiplin itu sendiri mempunyai dua bentuk, yaitu disiplin yang bersifat prenventif dan disiplin yang bersifat korektif. Seperti dijelaskan oleh AA. Anwar Prabu Mangkunegara dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, bahwa:

Ada 2 bentuk disiplin kerja, yaitu disiplin preventif, dan disiplin korektif. Disiplin preventif adalah suatu upaya untuk menggerkan pegawai mengikuti dan mematuhi pedoman kerja, aturan-aturan yang telah digariskan oleh perusahaan. Tujuan dasarnya adalah untuk menggerakan pegawai berdisiplin diri. Disiplin korektif adalah suatu upaya menggerakan pegawai dalam menyatukan suatu peraturan dan mengarahkan untuk tetap mematuhi peraturan sesuai dengan pedoman yang berlaku pada perusahaan.[7]

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun1980 disebutkan bahwa disiplin merupakan tindakan pimpinan untuk menegakkan standar organisasi, sehingga dapat tercapai produktivitas. Dalam pelaksanaan pembinaan disiplinan Pegawai Negeri Sipil terdapat dua pendekatan, yaitu :

a.  Disiplin Preventif

Tindakan yang dilakukan untuk mendorong pegawai mentaati standar dan norma sehingga pelanggaran dapat dihindari misalnya dengan memberikan motivasi, kompensasi, kesejahteraan atau jaminan karier.

b.  Disiplin Korektif

Disiplin korektip adalah kegiatan yang diambil untuk menangani pelanggaran terhadap aturan-aturan dan mencoba untuk menghindari pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut sehingga tindakan kedepan akan sesuai dengan standar dan norma, misalnya dengan memberikan peringatan atau hukuman disiplin. Untuk pengulangan pelanggaran dijatuhka hukuman yang lebih berat (disiplin progresif).[8]

Dengan disiplin preventif pegawai dapat memelihara dirinya terhadap peraturan-peraturan organisasi yang berlaku, dapat dikatakan disiplin preventif merupakan suatu system yang berhubungan dengan kebutuhan kerja untuk semua bagian sistem ada dalam organisasi, dengan harapan jika sistem organisasi baik, maka akan lebih mudah menegakan disiplin kerja. Sedangkan pada disiplin korektif merupakan tindakan dari disiplin suatu organisasi yang mengarah pada perbaikan agar tidak terulang pelanggaran bahkan sampai tindakan pemberian sanksi atau hukuman.

Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Selanjutnya diuraikan, bahwa”..untuk membina Pegawai Negeri Sipil yang sedemikian itu, antara lain diperlukan adanya peraturan yang memuat pokok-pokok kewajiban, larangan dan sanksi apabila kewajiban tidak ditaati atau larangan dilanggar “.[9]

Disiplin pegawai dalam suatu organisasi berawal dari pandangan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, luput dari kekhilafan dan kesalahan. Oleh karena itu setiap organisasi perlu memiliki berbagai ketentuan dan standar yang harus dipenuhi dan ditaati oleh para anggotanya.

4. Tujuan Pendisiplinan

Tujuan utama pendisiplinan adalah untuk mendorong pegawai berperilaku sepantasnya di tempat kerja, dimana “perilaku yang pantas” ditetapkan sebagai kepatuhan terhadap peraturan dan prosedur.

Dalam sebuah organisasi, pada dasarnya peraturan dan prosedur berfungsi sama dengan peraturan perundang-undangan dimasyarakat, dan tindakan pendisiplinan timbul akibat adanya pelanggaran peraturan tersebut.

Pendisiplinan pegawai dapat diterapkan secara bertahap dengan mengambil berbagai langkah yang bersifat pendisiplinan, mulai dari yang paling ringan hingga kepada yang terberat, AA. Anwar Prabu Mangkunegara mengemukakan: ” Pelaksanaan sanksi terhadap pelanggar disiplin dengan memberikan peringatan, harus segera, konsisten, dan impersonal.”[10]

Dapat disimpulkan, bahwa pemberian sanksi atas pelanggaran disiplin diberikan secara bertahap misalnya dengan memberikan peringatan seperti peringatan lisan, pernyataan tertulis, penundaan karier, pembebasan dari jabatan, pemberhentian sementara, pemberhentian atas permintaan sendiri, pemberhentian dengan hormat atas permintaan sendiri, hingga pemberhentian tidak dengan terhormat.


[1] Sondang P. Siagian, “Manajemen Sumber Daya Manusia” Cetakan kesepuluh, Bumi Aksara, Jakarta, 2003, Halaman 305

[2] Malayu S.P Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi, Bumi Aksara, Jakarta, 2003,Halaman 194

[3] Alek S. Nitisemito, Manajemen Personalia, Cetakan Keempatbelas, Ghalia Indonesia, Jakarta, 2003, Halaman 199

[4] AA. Anwar Prabu Mangkunegara, Manajemen sumber Daya Manusia Perusahaan” Cetakan Kedua, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2004, Halaman 129

[5] Hasibuan, OpCit, Halaman 194

[6] Nitisemo, Opcit, Halaman 213

[7] Mangkunegara, OpCit, halaman 129

[8] ———, Peraturan Pemerintah Nomor 30, Tahun 1980, Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil

[9] Ibid

[10] Mangkunegara, OpCit.halaman 131


Responses

  1. Terima kasih udah buat artikel ini. Artikel ini udah banyak membantu saya dalam meyelesaikan Tugas Akhir yang sedang saya kerjakan. Tapi saya pengen minta tolong,, kira2 dmn ya tempat menjual buku Alek S. Nitisemito, Manajemen Personalia, yang Cetakan Keempatbelas?? kalau ada yang tau tolong infonya ya. atau juga bisa hubungi saya di no. 085221427047. terima kasih.

  2. pak, saya udah confirm pesan dr bpk. Kira2 diamana ya pak saya bisa beli buku nya Alek S. Nitisemito, Manajemen Personalia, tapi yang Cetakan Keempatbelas. soalnya skripsi saya tentang disiplin kerja. saya loksai nya di jatinangor pak. jurusan administrasi negara unpad. mohon informasinya ya pak. terima kasih.

    • utk membeli buku ALek S Nitisemito dapat di cari di toko-toko buku, spt Gramdeia, BBC (Bandung Book Center), dan di Pasar Senen.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: