Oleh: admin | 22 September 2009

Pembangunan Ekonomi Berbasis Kepulauan

Amandemen UUD 1945 Pasal 25A mengamanatkan bahwa negara Republik Indonesia adalah negara kepulauan (archipelago state). Hakikat negara kepulauan adalah pulau dan laut sebagai ruang untuk hidup dan pusat aktivitas manusia. Demikian pula amanat Undang-Undang 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang NKRI yang pada dasarnya berbasis kepulauan.

Mobilitas dan pertukaran barang dan jasa di negara kepulauan sangat tergantung pada ketersediaan infrastruktur di pesisir dan moda transportasi di laut. Hal ini berbeda dengan negara kontinental yang menempatkan darat sebagai pusat aktivitas sehingga mobilitas semacam itu ditopang oleh infrastruktur yang ada di darat. Di samping itu, komposisi sumber daya di negara kepulauan merupakan kombinasi dari sumber daya di pulau dan laut. Hal ini bermakna modal dasar pembangunan di negara kepulauan akan tergantung pada kemampuan untuk memanajemen sumber daya di pulau dan laut dalam pengelolaan yang saling berkomplemen, bukan saling menyubstitusikan.

Masalah utama pembangunan di negara kepulauan adalah menciptakan soft power dan hard power dalam kerangka pembangunan nasional. Sebagian dari kebutuhan soft power tersebut telah dipenuhi dengan lahirnya produk perundang-undangan yang mendukung pengelolaan sumber daya di pesisir dan laut. Produk perundang-undangan tersebut di antaranya UU No 17/1985 tentang UNCLOS,UU No 31/2004 tentang Perikanan, dan UU No 27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Aspek terpenting dari produk perundang-undangan adalah penjabarannya dalam kerangka pembangunan. Dalam jangka pendek dan menengah kerangka tersebut akan terpatri pada konsep Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2010 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010?2014. Secara konsepsi sejauh mana kerangka pembangunan pulau dan laut mampu menjadi arus utama dalam RKP 2010 dan RPJM 2010?2014? Hal ini akan berpulang pada kesadaran kolektif untuk menempatkan permasalahan pembangunan pulau dan laut sebagai common issue pembangunan nasional.

Untuk itu, pemetaan atas permasalahan pembangunan pulau dan laut perlu dirumuskan dalam keterkaitannya dengan tantangan pokok yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Secara ekonomi, tantangan tersebut terpatri pada tiga isu pokok, yakni krisis finansial global, kemiskinan dan pengangguran, serta perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Dalam jangka pendek dan menengah isu tersebut terkait dengan upaya memperkuat daya saing ekonomi nasional, pengembangan program yang dapat menyerap lapangan kerja, serta menjaga kelestarian sumber daya dan lingkungan.

Daya saing ekonomi nasional erat kaitannya dengan upaya menciptakan sumber-sumber pertumbuhan baru akibat melemahnya ekspor, nilai dan volume perdagangan komoditas, manufaktur, serta semua yang berhubungan dengan ekspor. Kondisi tersebut diduga akan mempengaruhi rendahnya laju pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan di bawah 5 persen, di samping menurunnya nilai tukar dan naiknya angka pengangguran. Sumber pertumbuhan baru yang berpotensi untuk dikembangkan adalah sumber daya pulau kecil dan keanekaragaman hayati laut.

Salah satu bentuk pengembangan sumber daya ini adalah marine ecotourism dan di beberapa negara kepulauan, seperti Karibia, mampu memberikan kontribusi 12 persen bagi PDB dan dikunjungi 100 juta turis setiap tahunnya. Di sisi lain, pulau-pulau kecil berpeluang sebagai komponen budi daya perikanan mengingat perairan yang berada di sekelilingnya merupakan perairan teduh dan kaya plankton. Pengembangan ini berpeluang menciptakan ekonomi berbasis pulau-pulau kecil.

Potensi lain dalam jangka menengah, pulau-pulau kecil dapat dikembangkan sebagai sumber energi yang berbasis tenaga matahari dan angin serta ladang peternakan dan pembudidayaan tumbuhan. Contoh pengembangan semacam ini adalah pulau kecil Texel di Belanda dan Newfoundland di Kanada. Pulau-pulau kecil tersebut tidak hanya mampu menyuplai kebutuhan pangan dan energi sendiri, tapi mampu menarik kunjungan wisatawan.

Tentunya desain pengembangan seperti ini membutuhkan infrastruktur publik yang mampu menjamin mobilitas barang dan jasa secara efisien dan efektif serta menciptakan aksesibilitas. Penerapan coastal engineering dalam konteks ini menjadi kebutuhan di samping investasi di sektor publik yang cukup besar. Untuk itu dibutuhkan pendekatan yang mampu mempertemukan konsep coastal engineering dengan ekonomi sumber daya (resources economic) dalam suatu konsepsi pembangunan ekonomi berbasis kepulauan.

Pembangunan ekonomi berbasis kepulauan pada prinsipnya mengembangkan potensi pulau-pulau kecil melalui pemberdayaan masyarakat dan potensi ekonomi, yang didukung pengembangan infrastruktur dan jasa kelautan. Dukungan infrastruktur menjadi entry point pengembangan ini karena tantangan pertama adalah membuka keterisolasian pulau-pulau kecil yang berpotensi dalam rangka menciptakan aksesibilitas.

Untuk itu, pembangunan tambat labuh (jetty) dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau angin sebagai sumber energi menjadi tahapan penting dalam pengembangan ini. Pengembangan ini selanjutnya diikuti dengan penyediaan kebutuhan air bersih, prasarana dan sarana kesehatan,serta pendidikan bagi masyarakat.Langkah ini merupakan tahapan menciptakan sumber daya manusia yang sehat dan berpendidikan mengingat tingkat kesehatan dan pendidikan masyarakat dan lingkungan di pulau-pulau kecil masih jauh tertinggal.

Pada tahap ini, masyarakat di pulaupulau kecil mulai dipersiapkan untuk mampu menerima pengetahuan, keterampilan, dan informasi yang dibutuhkan untuk mengembangkan potensi pulaunya. Penyediaan infrastruktur publik yang diikuti dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat ini perlu didukung pula dengan kebijakan afirmatif, terutama jangka pendek untuk menekan disparitas harga kebutuhan hidup.Selama ini kebutuhan hidup di pulau-pulau kecil jauh lebih mahal dibandingkan di pulau besar.

Moda transportasi khusus yang melayani pulau-pulau kecil seperti air stripes menjadi pilihan bagi jalur yang selama ini minim dilayani Pelni. Di samping itu, di pulau-pulau kecil yang akan dikembangkan,dibutuhkan gudang logistik untuk menampung sementara kebutuhan pokok masyarakat dan komoditas pulau yang akan dijual. Tantangan lain dalam pengembangan pulau dan laut ini adalah rawannya pesisir dan pulau-pulau kecil terhadap bencana alam dan perubahan iklim global.

Kenaikan permukaan air laut dan bencana tsunami telah menjadi ancaman bagi lingkungan hidup di wilayahwilayah tersebut.Kondisi ini membutuhkan pendekatan yang komprehensif untuk menciptakan tata ruang wilayah pesisir dan laut yang mampu menjamin kelestarian sumber daya, aktivitas manusia, dan infrastruktur yang dibangun.

Besarnya tantangan pembangunan di bidang kelautan, terutama mengoptimalkan potensi sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil, tidak lepas dari kebutuhan investasi di sektor tersebut. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki luas laut yang mencapai 5,8 juta km2 dengan garis pantai sepanjang 95.181 km dan meliputi lebih kurang 17.480 pulau besar dan kecil serta ribuan spesies sumber daya hayati.

Untuk itu, perlu dipikirkan alokasi investasi sektor publik dalam mendorong pengembangan optimal potensi-potensi tersebut. Selama ini kemampuan untuk mendorong investasi sektor publik dalam pengembangan potensi sumber daya kelautan, pesisir dan pulau-pulau kecil hanya sekitar 0,3 persen lebih dari total APBN. Tentunya, kondisi tersebut kurang mampu mendongkrak potensi sumber daya yang ada,sehingga mampu dimanfaatkan bagi peningkatan daya saing dan kesejahteraan rakyat.

Memasuki tahapan RKP 2010 dan RPJM 2010?2014, potensi-potensi ini harus dapat dimobilisasi sebagai sumber pertumbuhan baru ekonomi nasional. Untuk itu, dibutuhkan investasi publik dalam pembangunan ekonomi berbasis kepulauan ini paling tidak 1 persen lebih dari total APBN. (*)

Penulis : Prof Ir Widi A Pratikto, MSc, PhD
Guru Besar Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: