Oleh: admin | 20 April 2010

Peran Kepemimpinan Partai dalam Konflik

Satu musuh terlalu banyak,seribu kawan terlalu sedikit
.
Dalam sebuah proses pengelolan organisasi, baik organisasi profit maupun non profit sekalipun, tidak akan lepas dari permasalahan konflik dalam organisasi. Terlebih lagi bagi organisasi politik seperti Partai politik yang secara inheren masalah konflik merupakan bagian yang tidak dapat dilepaskan dari kesehariannya. Kita banyak melihat persoalan-persoalan konflik partai politik selalu saja mewarnai dalam pemebritaan media cetak maupun elektronik, baik pada lingkup lokal maupun nasional.
Terlebih akan memasuki masa-masa pemilihan umum (pemilu), pilkada atau pilpres sekalipun. Artinya bahwa konflik dalam organisasi sulit dan tidak dapat dihapuskan sama sekali dalam aktifitas keseharian organisasi. Docktoroff (1977) mengatakan bahwa konflik sebagai mother of change (ibu dari segala perubahan). Bila ada dua orang sedang berinteraksi, tidak tertutup kemungkinan meraka akan berbeda pendapat.

Pengertian dan Sumber Konflik
Pertentangan tidak dapat dilenyapkan dari kehidupan budaya manusia. Orang dapat mengubah sarana-sarananya, obyeknya, arah dasar atau pendukung-pendukungnya, tetapi orang tidak dapat membuang konflik itu sendiri (Max Weber). Pertentangan antara individu atau kelompok dalam masyarakat, atau antar-negara. Konflik dapat terjadi antara dua atau lebih orang, gerakan sosial, kelompok kepentingan, kelas, gender, organisasi, partai politik, dan kelompok-kelompok etnis, ras dan agama (Jary and Jary). Konflik berasal dari kata kerja Bahasa Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua atau lebih orang atau kelompok dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain atau membuatnya tidak berdaya.
Pada umumnya konflik dalam organisasi disebabkan oleh sumberdaya yang terbatas/kurang (Benyamin-Fink,1989). Tak jarang kita mendapati konflik tercipta karena terjadinya kompetisi yang diakibatkan karena keterbatasan sumberdaya yang dimiliki oleh organisasi, sementara disisi lain, kita dituntut untuk dapat segera menyelesaikan tugas organisasi tersebut dengan sebaik-baiknya. Konflik juga bisa terjadi dalam hubungannya antara pimpinan dan bawahan dalam organisasi karena terdapat perbedaan visi dan persepsi didalam menjalankan misi organisasi.
Dalam perspektif politik Adanya kompetisi dalam memperebutkan sumberdaya dan akses-akses (politik) yang terbatas. Adanya kepentingan (interest, dan bisa juga ideology) yang berbeda satu sama lain, sehingga saling bersaing untuk memperebutkan pengaruh dan kekuasaan. Dan Adanya perbedaan penafsiran di dalam menterjemahkan aturan main, sebagaimana digariskan organisasi. Dalam kasus-kasus tertentu konflik terjadi karena megemukanya sentimen primordial dan mengemukanya sikap-sikap eksklusif, irasional, dan tidak toleran. Dalam kasus-kasus tertentu pula konflik terjadi karena adanya kesalahahaman akibat adanya provokasi-provokasi yang menyulut permusuhan.

Pandangan tentang Konflik
Secara teoritik, konflik dapat dilihat dalam tiga perspektif; pertama perspektif konservatif (tradisonal), kedua perspektif behavior dan ketiga perspektif interaksionis. Ketiga pandagan tentang konflik tersebut akan memberikan sebuah cara pandang dan teknik penyelesaian yang berbeda-beda satu sama lain didalam pengelolaan konflik yang dihadapi. Dan yang pasti juga akan terlihat adalah tipologi dari mereka-mereka yang memiliki kecendrungan terhadap ketiga pandangan konflik diatas.
Pandangan tradisional; Pengamat pandangan ini menyatakan bahwa konflik ini jelek dan sifatnya negatif. Konflik dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya dan harus dihindari. Pandangan behavioral; Para ahli perilaku berpendapat bahwa konflik adalah sesuatu yang sifatnya alamiah ada dalam setiap individu dan kelompok. Karena itu konflik tidak bisa dihindari dan ditiadakan, kadang-kadang konflik akan memberikan keuntungan pada prestasi kelompok. Dan Pandangan interaksionis; Pandangan behavioral menerima keberadaan konflik sedangkan pandangan interaksionis pada dasarnya mendorong terjadinya konflik.
Dalam persepktif lain, kita dapat memilah pandangan orang terhadap konflik adalah pada pandangan benar dan salah, yaitu; Pandangan yang salah, dimana menurut pandangan ini Konflik dapat ditiadakan/dimatikan, akibatnya yang mengemuka adalah pola-pola otoritarian dalam mengelola partai, Konflik akan selesai dengan sendirinya, akibatnya konflik berlangsung berlarut-larut tanpa kejelasan penyelesaiaanya dan Konflik adalah musuh yang tidak dapat dikelola, akibatnya konflik tidak dapat dimanfaatkan sebagai pengalaman yang berharga bagi pendewasaan organisasi.
Pandangan yang Benar, dalam pandangan ini konflik dilihat sebagai sebuah hal yang objektif, dimana Konflik merupakan realitas yang selalu ada, sepotensial atau selaten apapun, karenanya kehadirannya tidak dapat diabaikan, Konflik tidak akan pernah selesai atau berlarut-larut apabila tidak terselesaikan melalui mekanisme pengelolaan konflik yang baik, Konflik bukanlah musuh, tetapi merupakan bagian integral dari dinamika organisasi yang dapat membuat organisasi tumbuh-dewasa dan Manajemen konflik yang baik membuat organisasi berjalan secara efektif dalam mencapai tujuan.

Partai dan Manajemen Konflik
Setiap pimpinan partai menghendaki dalam tubuh organisasi partai yang dipimpinnya senantiasa tercipta harmoni dan kondusifitas yang tinggi, karena dengan begitu akan menjadi sebuah energi yang berharga didalam pengelolaan partai politik disaat kompetisi antara parpol sangat ketat. Tidak ada pimpinan partai yang menginginkan, organisasi yang dipimpinnya selalu berada dalam keadaan instabilitas, atau selalu berada dalam suasana kegoncangan atau konflik yang berkepanjangan, mengapa? Karena jika organisasi selalu saja dilingkupi oleh iklim konflik yang tidak pernah berhenti, maka pertanyaannya akankah partai tersebut akan dapat menjalankan program-programnya bagi masyarakat? Atau apakah partai tersebut akan berkembang secara baik? Menjadi partai yang besar?
Menurut J Salusu (1998) setiap pimpinan organisasi menghendaki agar organisasi yang dipimpinnya menjadi organisasi yang sinergistik, yang didalamnya setiap orang mempunyai perasaan harmoni dengan orang lain sehingga memungkinkan mereka dapat bekerjasama dengan baik dan penuh dengan keharmonisan. Jika iklim tersebut dapat terwujud, maka organisasi akan lebih mampu menghadapi berbagai perubahan dalam lingkungan dan energi yang dipakai dalam mencapai sasaran organisasi dapat dikurangi.
Akbar Tanjung (2008) menyatakan bahwa Model-model kasus konflik internal partai politik diantaranya; Dualisme kepengurusan, Konflik antar-faksi yang berbeda kepentingan, Konflik antara anggota parlemen dari partai politik bersangkutan dengan pengurus, yang berujung pada penon-aktifan anggota parlemen tersebut, Konflik yang terkait dengan pra dan pasca pemberhentian dari pengurus dan anggota partai dan Konflik yang terkait dengan palanggaran AD/ART. Adapun dampaknya bagi partai adalah; Melemahnya soliditas partai, Mandegnya mesin politik partai,Turunnya apresiasi masyarakat terhadap partai Jatuhnya wibawa dan citra partai, dan Melemahnya kekuatan (daya tawar) politik partai

Orientasi dan Teknis Penyelesaian Konflik
Solusi menang-menang (Win-win solution); Ini merupakan hal ideal yang ingin dicapai agar Pihak-pihak berkonflik merasa puas dengan penyelesaian konflik secara obyektif dan Dampak konflik dapat diminimalisasi. Solusi menang-kalah (Win-lose solution) ; Ini merupakan hal yang tidak tidak ideal, dimana Konflik diselesaikan dengan subyektif, pihak yang dikalahkan tidak puas, karena akar konflik tidak tersentuh sehingga Dampak konflik masih tersisa dan Pendekatan “tumpas kelor” (zero sum game) ini, berpotensi memunculkan dendam politik yang tak berkesudahan
Sementara pada tingkat bagaimna konflik dapat diselesaikan, kita dapat melihat bahwa konflik pada prinsipnya dapat diselesaikan dan bahkan dihilangkan. Semuanya bergantung pada good will dari para pimpinan partai politik dalam mengelola konflik tersebut. Pertama; Penyelesaian Dialogis (pendekatan ini berorientasi win-win), adalah penyelesaian konflik dengan menggunakan metode Problem-solving (pihak-pihak berkonflik berinisiatif mencari jalan keluar secara dialogis dan obyektif), Mediasi (memanfatkan jasa mediator atau penengah konflik) dan Arbitrase (perwasitan, menyerahkan penyelesaiannya melalui jalur hukum, dimana konflik diselesaikan dengan keputusan hakim). Kedua; penyelesaian konflik dengan cara Konfrontasi (confronting), yaitu Konfrontasi berkonsekuensi pada orientasi penyelesaian konflik secara win-lose. Ketiga; penyelesaian konflik dengan cara Menghindari (Avoiding), yaitu Sifatnya hanya menunda (delay) konflik, tidak memecahkan masalah, tetapi justru membuka kesempatan bagi berkembangnya konflik secara lebih kompleks/rumit.
Keempat; Penyelesaian konflik dengan cara Dialogis (pendekatan ini berorientasi win-win), yaitu Problem-solving (pihak-pihak berkonflik berinisiatif mencari jalan keluar secara dialogis dan obyektif), atau Mediasi (memanfatkan jasa mediator atau penengah konflik) dan Arbitrase (perwasitan, menyerahkan penyelesaiannya melalui jalur hukum, dimana konflik diselesaikan dengan keputusan hakim), kelima; metode penyelesaian Konfrontasi (confronting), dimana Konfrontasi berkonsekuensi pada orientasi penyelesaian konflik secara win-lose. Dan keenam; mtode penyeleaian Menghindari (Avoiding), yaitu metode yang Sifatnya hanya menunda (delay) konflik, tidak memecahkan masalah, tetapi justru membuka kesempatan bagi berkembangnya konflik secara lebih kompleks/rumit.
Dalam kontek penyelesaian konflik dalam perspektif partai politik, penulis melihat bahwa metode yang efektif dapat digunakan adalah; Orientasi penyelesaian konflik bersifat win-win solution, dengan Rujukan yang dipakai adalah AD/ART dan ditunjang dengan Peran kepemimpinan partai akan sangat menentukan penyelesaian konflik internal. Secara ideal pendekatan diatas dapat dilakukan dengan dialogis: yaitu, Pendekatan utamanya adalah problem solving, menyelesaikan konflik dengan elegan dan kekeluargaan, Tetapi kalau tidak tercapai, maka memakai teknis mediasi dengan melibatkan mediator baik kalangan dalam maupun luar partai dan Apabila mediasi gagal, maka dipakai pendekatan arbitrese, dengan membawanya ke proses pengadilan

Peran Kepemimpinan Partai dalam Konflik
Peran kepemimpinan dalam manejemen konflik sangat signifikan. Pemimpin yang efektif akan dapat mengantisipasi dan menyelesaikan atau mengelola konflik secara optimal. Seorang Pemimpin partai harus bersikap obyektif dalam menghadapi fenomena konfliktual internal partai. Dan Pemimpin partai yang efektif mengelola konflik adalah yang punya integritas dan kemampuan komunikasi politik yang baik, sehingga dapat diterima keberadaan dan fungsinya sebagai mediator dengan baik (adanya trust).
Idealnya peran kepemimpinan partai dalam mengelola konflik adalah sebagai berikut; pertama Mampu menjadi jembatan dan penengah (mediator) konflik secara efektif, sehingga tidak muncul deadlock dalam proses politik internal; kedua Memiliki trust yang tinggi dan teladan yang patut dicontoh para pengurus dan kader partai; ketiga Senantiasa berpegang pada AD/ART dan peraturan partai; keempat Mampu mengelola konflik sehingga tidak sampai mengerucut pada Manifest Conflict, dengan kata lain mampu mengelola siklus konflik dengan baik.
Akhirnya kita dapat melihat bahwa Konflik merupakan realitas yang tidak dapat dipungkiri adanya. Konflik harus dikelola dengan baik, agar menghasilkan pengalaman dan manfaat yang baik bagi kedewasaan organisasi. Dan Pemimpin memiliki posisi dan peran strategis di dalam proses manajemen konflik internal partai, yang ditunjang dengan Integritas dan komunikasi politik yang baik menunjang efektivitas pengelolaan konflik. ®


Responses

  1. bisa diunduh gak?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: